Menikah muda, sepertinya saat ini sedang trend di kalangan generasi muda. Ada yang karena pemahaman agama, dengan pertimbangan untuk lebih menjaga hati dan menjauhi zina. Selain itu juga untuk merasakan nikmatnya keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Ada pula karena terlanjur ’kebablasan’ dalam hubungan seks pra nikah. Untuk yang terakhir ini, seorang ustadz mengistilahkan dengan pemilu, alias pengantin hamil dulu. Istilah lain yang dikenal anak muda adalah MBA, alias married by accident.
Jangan heran, di Indonesia yang seperti itu makin hari makin meningkat saja. Bahkan seolah-olah sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa, dan bukan aib lagi. Ketika dibikin sinetron pun laris manis. Bagi yang belum bisa meninggalkan acara televisi mungkin pernah mendengar sinetron Pernikahan Dini. Meskipun ceritanya seputar pasangan pemilu yang sarat konplik, hampir tidak pernah akur, toh ratingnya cukup tinggi juga. Na’udzubillaahi min dzaalik. Yah,, sesuatu kalau awalnya tidak baik, biasanya jarang bisa berakhir dengan baik. Termasuk juga dalam pernikahan. Meskipun bahagia di masa pacaran, tidak menjamin akan bahagia setelah menikah. Apalagi jika sudah punya anak.
Tentu bagi anak-anak muda yang selalu berusaha meniti jalan taqwa, married by accident tidak akan pernah menjadi pilihan mereka. Solusinya yang halalan thoyyiban saja sudah dituntunkan oleh Allah, kok mau milah yang penuh bahaya. Pemuda-pemudi ini pun banyak yang memutuskan untuk menikah muda. Hanya saja, biasanya mereka pacaran setelah menikah. Lalu apa sih suka duka nikah muda?